Jumat, 22 Januari 2010

FATWA MUI ( PEMILU )


MEMILIH CALON PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT

PERTAMA, Memilih pemimpin yang beriman dan bertaqwa, jujur [shidiq], terpecaya [amanah], aktif dan inspiratif [tabligh], mempunyai kemampuan [fathonah], dan memperjuangkan kepentingan umat islam, hukumnya adalah wajib.
Dasar fatwa MUI tersebut adalah firman Alloh ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh [Alqur’an] dan Rosul [sunnahnya], jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An Nisa’ 59]

KEDUA, Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan di atas atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat , hukumnya adalah haram.
Dasar penetapan fatwa ini adalah hadits Nabi SAW:

“Dari ‘Abdulloh bin Amr bin ‘Aufal Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya, sesungguhnya Rosululloh Saw bersabda: “Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. [HR At tirmidzi]

Dengan demikian tegaslah bahwa fatwa MUI tentang memilih dalam pemilu itu adalah ;

(1) WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT YANG ; beriman dan brtaqwa, jujur, terpecaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memprjuangkan umat islam.

(2) HARAM BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH PEMIMPIN DAN WAKIL RAKYAT YANG; tidak beriman, tidak bertaqwq, tidak jujur, tidak terpecaya, tidak aktif, dan tidk aspiratif, tidak mempunyai kemampuan, dan tidak memperjuangkan kepentingan umat islam.


Renungkanlah sabda baginda Rosululloh Saw;
“Barangsiapa memilih seorang pemimpin padahal ia tahu ada orang lain yang lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dan lebih faham terhadap kitab Alloh dan sunnah RosulNya , maka ia telah menghianati Alloh, RosulNya, dan semua orang beriman”.[HR.at thabrani]

Dinukil dari Buletin Dakwah Suara Islam.

0 komentar:

Poskan Komentar

WAKTUMU

taufiqumar.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.